July 23, 2008

Masih Sibuk Dengan Friendster & Facebook?

Udah lama gw gak lagi ikutan yang namanya mailing list alias milis, group chat, or whatever else namanya. Dan beberapa hari yang lalu, gw pun memutuskan untuk men-delete account friendster. Kenapa? Capek aja dan bosen! Emang kenapa sih? What’s the big freakin’ deal? Di dunia maya, ada 2 accounts yang gw masih punya: facebook dan blog ini. Facebook pun udah mulai ganggu berat dengan sejuta email-email gak penting (how popular are you?, how good of a kisser are you?, which city do you want to live in?, poke, poke, poke, someone just sent you a hug… etc., etc. etc.) yang masuk ke inbox gw setiap hari. Super gak penting!

Friendster, facebook, milis dan hal-hal kayak gini kan cuma sekedar ajang popularitas aja. I mean, fine lah kalo elo masih remaja or young adults. Tapi buat orang-orang seumuran gw, udah kepala 4 or mostly hampir kepala 4, buat apa ya ajang kayak gini? So kita nemuin temen-temen lama yang udah gak pernah ketemu sejak belasan or bahkan puluhan tahun lalu. So what? Jujur aja, sebagian besar orang-orang yang gw add sebagai “friend” sebenarnya udah gak bisa lagi dianggep “friend”. Serius deh. Selain banyak banget nama yang gw gak kenal, or nama yang gak bisa di-connect ama tampangnya no matter how hard I’ve tried searching in the deepest of my brain cells, mereka ini orang-orang yang udah sibuk sendiri, udah berkeluarga, udah kerja, dan yang terpenting… kemungkinan besar udah gak sejalan, sepikiran dan sealiran lagi ama elo yang sekarang. Semua nostalgia yang mengharu biru tentang betapa kompaknya kalian dulu, jalan bareng, makan bareng, nyontek bareng, mabok bareng, nyari pacar bareng or whatever… itu semua kan tinggal kenangan… Dengan kita bisa ketemu lagi sekarang di ajang friendster or facebook or milis, toh the best we can do cuma sekedar inget-inget masa itu, tapi gak bisa diulang lagi.

Emang ada sih yang bilang, ajang ini juga bisa dijadiin ajang networking. Ada potensi bisnisnya. Kali-kali aja ada temen yang akhirnya bisa kerja bareng atau malah jadi klien dan sumber income paling gress. Okay... tapi berapa persen sih dari kalian bisa memanfaatkan ajang ini sebagai media berbisnis dan cari duit? Ngaku deh, sebagian besar dari kalian paling sekedar seneng ngeliatin foto-foto... ih, kayak apa ya dia sekarang... nulis testimoni, atau ngirimin gambar-gambar lucu di wall, atau sekedar ha-ha-hi-hi gak jelas... Maybe, sebagian dari kalian menganggap ini “silaturahmi”. Tapi saya menganggapnya sebagai bukti nyata bahwa manusia… sudah mati. Manusia masa kini hanya seonggok daging yang punya nama. Tambah lama tambah gak jelas aktivitasnya. Tambah lama tambah dangkal pemikirannya. Tambah lama tambah hedonistik. Tambah lama tambah terpisah dari rantai kehidupan yang sesungguhnya… It’s absolutely sickening…

Manusia bukanlah spesies yang istimewa. Kita tidak punya penciuman super tajam seperti ular dan komodo. Kita tidak punya radar supersonic seperti kelelawar. Kita tidak diberikan tubuh yang besar seperti gajah atau taring yang tajam seperti singa. Kita tidak bisa terbang seperti burung dan tidak bisa hidup di dalam air seperti ikan. Kita hanya diberikan sebuah otak yang (seharusnya) sangat cemerlang dan sebuah hati yang (seharusnya) sangat mulia. Namun, ironisnya, dengan akal yang cemerlang itulah kita telah menginjak-injak kehidupan lain di muka bumi ini. Dengan akal yang cemerlang itulah kita telah merampas rumah bagi berbagai keanekaragaman hayati. Dengan akal yang cemerlang itulah kita menghindari rasa sakit dan berusaha main ‘tak umpet’ dengan kematian, melalui beragam obat-obatan, mengoles beragam produk anti-aging, yang diolah dengan cara merampas dan/atau mengorbankan makhluk-makhluk lain. Dengan akal yang cemerlang itulah kita memisahkan diri dari elemen-elemen kehidupan lainnya, tanpa mampu menyadari bahwa kita tidak mungkin mempertahankan spesies kita, the human race, jika semua elemen-elemen itu punah.

Manusia tidak sadar, bahwa minyak kelapa sawit yang terkandung di begitu banyak produk kecantikan dan kebugaran, telah merampas habitat orangutan dan berbagai primata lainnya, harimau dan berbagai kucing besar lainnya, burung-burung tropis yang cantik menawan, beragam binatang melata dan amfibi, serta berjuta-juta hektar pepohonan hutan yang KITA butuhkan untuk bernapas! Manusia tidak sadar atau sekedar tidak peduli… gw udah gak bisa bedain lagi… Mana otak yang cemerlang itu? Mana hati yang mulia itu? Semua sudah mati!

Manusia tidak sadar, bahwa karena keinginan kita hidup dengan mudah dan praktis, kita telah memperlakukan bumi ini layaknya sebuah tempat sampah besar. Manusia tidak sadar, bahwa ketakutan kita akan rasa sakit dan harapan kita untuk hidup selamanya, telah membunuh jutaan binatang dalam proses penelitian dan pembuatan obat-obatan. Bahkan, ini yang paling sickening, perempuan jaman sekarang begitu takutnya dengan proses melahirkan secara alami sehingga banyak dari mereka yang memilih untuk menjalani operasi Caesar saja. Padahal... hal ini SANGAT merugikan bagi bayinya! Dia tidak sempat mengalami masa penantian di mulut vagina sang ibunda. Di mulut vagina inilah dia seharusnya membangun sistem kekebalan tubuhnya melalui bakteri-bakteri dan mikro-organisme lainnya yang ada di situ. Iya, bakteri-bakteri yang menyebabkan vagina berbau “khas”, itulah yang dibutuhkan bayi untuk membangun kekebalan tubuh yang alami! Mana otak yang cemerlang itu? Mana hati yang mulia itu? Semua sudah mati!

Manusia menganggap dirinya paling hebat, paling sempurna. Karena itu manusia tak pernah mau belajar dan berkaca dari alam ini. Alam yang telah memberikannya kehidupan itu sendiri. Coba lihat segala makhluk yang ada di alam ini. Mereka pun berkembang biak, melahirkan, merasakan sakit, dan akhirnya mati. Satu kematian merupakan awal dari kehidupan lainnya. Tidak ada yang pake operasi Caesar segala! Tidak ada yang berusaha hidup selamanya! Kenapa kita menganggap kita beda dari mereka? Mana otak yang cemerlang itu? Mana hati yang mulia itu? Semua sudah mati!

Manusia, terutama di Indonesia, mengaku kalau dirinya percaya pada Tuhan. Sholat 5 waktu dan rajin ke gereja. Bersemedi dan melantunkan irama-irama doa. Tapi setiap hari, mereka menghancurkan, meremehkan, mengabaikan anugerah Tuhan yang telah diletakkan di atas planet ini untuk membela kehidupan. Hutan bakau yang berfungsi menahan ombak dan mencegah erosi, habis dikonversi jadi pemukiman, perkebunan dan daerah industri. Hutan tropis yang mampu menyerap karbon, memproduksi oksigen, mencegah erosi dan banjir, mengatur iklim, habis semua demi pola hidup hedonistik manusia. Terumbu karang tempat semua kehidupan di lautan berawal, habis dibom dan diracuni. Jangan bilang percaya sama Tuhan! Jangan berani-berani! Not in front of me! Belajar dari alam, itu kitab suci yang terbaik! Mana otak yang cemerlang itu? Mana hati yang mulia itu? Semua sudah mati!

Dan kalian semua masih saja berha-ha-hi-hi di friendster, facebook dan milis. Masih juga bikin reuni sekedar mengungkit-ungkit kisah lama. Masih juga kumpul-kumpul gak karuan. Kenapa sih gak bisa menggunakan energi itu untuk MERUBAH PERILAKU??? Biarkan kisah lama jadi kenangan. Jadilah manusia baru yang benar-benar punya otak dan hati. Dan mungkin seiring perubahan itu, kalian akan punya teman-teman baru dan akhirnya terpisah dari yang lama. Ya gak apa-apa! Segitu takutnya dengan perubahan kah kita? Ini perubahan yang penting... bukan untuk membela planet bumi... planet ini akan ada terus tanpa kita... tapi untuk membela kehidupan kita sendiri. DAN... kehidupan kita tidak mungkin bertahan tanpa kelestarian dan keutuhan rantai kehidupan lainnya... di mana kita termasuk di dalamnya!

1 comment:

AMANDA MEIRINI SUCAHYO said...

mbak dong ah... makasih ya...